Perajin Tempe di Pesawaran Pertahankan Kualitas dengan Jaga Kebersihan, Produksi Capai 150 Kg Kedelai per Hari

Penulis: Rizal Fikri  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:03:31 WIB
Suharti menunjukkan kedelai yang telah direndam sebagai bagian dari proses produksi tempe di tempat usahanya di Way Layap Satu, Gedongtataan, Pesawaran.

PESAWARAN — Kebersihan menjadi fondasi utama bagi Suharti, pemilik usaha tempe di Way Layap Satu, Gedongtataan, Kabupaten Pesawaran, untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Menurut dia, kebersihan menentukan perkembangan jamur pada tempe sekaligus mencegah kontaminasi bakteri yang dapat merusak produk.

"Yang paling penting itu kebersihannya, supaya tidak ada bakteri yang mengganggu dan jamurnya tetap bagus," ujar Suharti saat ditemui di tempat usahanya, akhir pekan lalu.

Produksi Harian Capai 150 Kilogram Kedelai

Kapasitas produksi usaha ini menyesuaikan dengan permintaan pasar. Setiap harinya, proses pembuatan tempe membutuhkan sekitar 100 hingga 150 kilogram kedelai. Jumlah tersebut fluktuatif, bergantung pada banyaknya pesanan dari pelanggan tetap maupun pembeli baru.

Dengan volume produksi yang cukup besar, aspek higienitas menjadi perhatian serius. Suharti memastikan setiap tahapan, mulai dari perendaman, peragian, hingga pembungkusan, dilakukan dengan standar kebersihan yang ketat. Hal ini penting agar tempe yang dipasarkan memiliki tekstur dan rasa yang konsisten.

Pemasaran Menjangkau Warung hingga Pelanggan MBG

Produk tempe tidak hanya dijual langsung kepada konsumen di lokasi usaha. Sebagian hasil produksi dititipkan ke sejumlah warung dan penjual lain di sekitar Pesawaran, sementara sebagian lainnya dipasarkan dengan cara berkeliling ke beberapa wilayah.

Permintaan yang masuk pun beragam. Selain masyarakat sekitar, usaha ini melayani pelanggan yang mengambil tempe dalam jumlah tertentu untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Keberadaan pelanggan dari berbagai kalangan membuat pemasaran produk tetap berjalan stabil.

Harga Mulai Rp1.000 Per Potong

Untuk harga, tempe dijual dengan banderol sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per potong. Besaran harga tersebut ditentukan oleh ukuran dan jenis tempe yang diproduksi. Rentang harga ini dinilai masih terjangkau bagi masyarakat setempat.

Pengalaman selama 13 tahun membuat Suharti memahami pentingnya menjaga kepercayaan konsumen. Caranya tidak hanya dengan menjaga kebersihan, tetapi juga konsisten memenuhi permintaan dan memperluas saluran pemasaran. Upaya ini menjadi strategi agar usaha tetap bertahan di tengah persaingan produk sejenis.

Reporter: Rizal Fikri
Sumber: lampung.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top