Pemkab Lampung Barat Gaet BUMD hingga Akademisi Wujudkan Pusat Kopi Robusta Nasional, Targetkan 36 Ribu Petani Sejahtera

Penulis: Rendi Kusuma  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 10:30:01 WIB
Pemkab Lampung Barat menggandeng BUMD dan akademisi dalam program strategis untuk menjadikan daerah itu sebagai pusat kopi robusta nasional.

LAMPUNG SELATAN — Pemerintah Kabupaten Lampung Barat tidak ingin kopi robusta dari daerahnya hanya dikenal sebagai "Kopi Lampung" tanpa identitas asal-usul yang jelas. Lewat program strategis lima tahun ke depan, Pemkab bersama BUMD PT Pesagi Mandiri menggenjot kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem kopi yang terintegrasi, dari hulu hingga hilir.

Sekretaris Daerah Lampung Barat Nukman menegaskan bahwa sinergi ini mutlak diperlukan. Menurutnya, penguatan identitas kopi asal Lampung Barat menjadi kunci utama dalam meningkatkan daya saing produk di tingkat nasional.

Mengapa Identitas "Kopi Lampung Barat" Penting?

"Kebanyakan orang luar hanya tahu Kopi Lampung, tetapi produksi terbesarnya berasal dari Lampung Barat. Bagaimana caranya agar seluruh Indonesia mengenal identitas kita sebagai Kopi Lampung Barat, salah satunya melalui penguatan branding, penggunaan logo Lampung Barat, dan promosi yang berkelanjutan," ujar Nukman di Lampung Selatan, Selasa.

Ia menambahkan, kopi adalah identitas Lampung Barat yang harus terus digaungkan. Tanpa branding yang kuat, nilai tambah komoditas ini sulit dirasakan langsung oleh petani di tingkat tapak.

Angka dan Target: 54 Ribu Hektare Lahan, 63 Ribu Ton per Tahun

Direktur PT Pesagi Mandiri, Alamsyah HR, membeberkan potensi besar yang dimiliki Lampung Barat. Daerah ini merupakan salah satu sentra kopi robusta terbesar di Indonesia dengan sekitar 36 ribu petani yang mengelola lahan seluas 54 ribu hektare dan menghasilkan sekitar 63 ribu ton kopi per tahun.

"Kopi bukan sekadar komoditas, tetapi merupakan identitas dan masa depan ekonomi masyarakat Lampung Barat. Karena itu, kami ingin menjadikan Lampung Barat sebagai pusat kolaborasi dan rujukan kopi robusta Indonesia," kata Alamsyah.

Tantangan yang Masih Membayangi Petani

Meski potensinya besar, Alamsyah mengakui masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Data petani yang belum terintegrasi, tidak adanya sistem ketertelusuran (traceability) produk kopi, serta terbatasnya kemitraan dengan industri menjadi kendala utama. Akibatnya, nilai tambah yang diterima petani maupun pemerintah daerah belum optimal.

Program Strategi Pengembangan Ekosistem Kopi Robusta 2026–2030 dirancang untuk menjawab tantangan tersebut. Targetnya jelas: peningkatan kesejahteraan petani, produktivitas dan kualitas kopi, masuknya investasi industri pengolahan, hingga meningkatnya aktivitas ekonomi daerah.

"Kegiatan hari ini merupakan langkah bersama untuk membangun ekosistem kopi Lampung Barat yang terintegrasi, berkelanjutan, serta memberikan manfaat bagi para petani, masyarakat, dan daerah. Upaya ini tentu memerlukan kolaborasi dari semua pihak," tutup Nukman.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: lampung.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top