HAVANA — Tudingan keras kembali dilontarkan pimpinan Kuba di tengah memburuknya krisis energi yang melumpuhkan aktivitas industri. Diaz Canel menyatakan bahwa AS tengah menjalankan kebijakan “pencekikan ekonomi maksimal” yang diperkuat dengan embargo energi dan pemblokiran keuangan.
“Menyiksa rakyat Kuba melalui blokade demi memicu mereka untuk memberontak melawan pemerintah mereka merupakan suatu kejahatan,” kata Diaz Canel dalam upacara di Provinsi Pinar del Rio, Kuba barat.
Dampak paling nyata dari kebijakan AS, menurut Diaz Canel, adalah krisis parah dalam sistem kelistrikan Kuba. Akibatnya, pemadaman listrik berlangsung lebih dari 24 jam dan melumpuhkan hampir seluruh sektor industri.
Presiden Kuba menggambarkan blokade tersebut sebagai senjata perang. Ia menegaskan bahwa tindakan paksaan sepihak Washington setiap tahunnya dikecam oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam pidatonya, Diaz Canel juga membantah anggapan bahwa Kuba merupakan ancaman bagi negara lain. Ia justru membandingkan kontribusi Kuba dengan kebijakan luar negeri AS.
“Kuba adalah bangsa yang mulia yang menyelamatkan nyawa di saat negara lain menghancurkan, yang mengirimkan dokter dan guru ke tempat negara lain mengirimkan bom,” ujarnya.
Menghadapi tekanan ekonomi, Diaz Canel menyebut prioritas strategis negaranya adalah menerapkan “perubahan mendalam dan penting” yang tertuang dalam program pemerintah berisi 176 langkah yang baru saja disetujui.
Program tersebut mencakup pendorongan model manajemen baru, penggiatan kembali peran pekerja dan petani, serta pembukaan ruang bagi investasi yang bertanggung jawab. “Kami menanggapi blokade dengan bertindak bijaksana dan bekerja efisien, serta mengatasi isolasi dan perpecahan dengan persatuan,” kata Diaz Canel.
Pidato keras ini disampaikan dalam rangka peringatan 73 tahun Hari Pemberontakan Nasional Kuba, yang memperingati peristiwa 26 Juli 1953. Saat itu, mendiang pemimpin revolusioner Fidel Castro bersama sekitar 100 pengikutnya berupaya merebut Barak Moncada, benteng militer kedua dari kediktatoran Fulgencio Batista di Kota Santiago de Cuba, serta Barak Carlos Manuel de Cespedes di Kota Bayamo.