LAMPUNG — Duel iPhone 18 Pro Max versus Galaxy S26 Ultra diuji lewat tujuh kategori, mulai dari harga, desain, layar, kamera, performa, baterai, hingga software dan fitur AI. Keduanya sama-sama dibanderol mulai 1.299 dolar AS (sekitar Rp 21,4 juta) untuk varian dasar 256 GB, jadi kali ini tak ada yang lebih murah di kasir. Hasilnya, iPhone 18 Pro Max keluar sebagai pemenang mayoritas kategori, meski Samsung tetap unggul di ranah AI dan produktivitas.
Tom's Guide menguji kedua ponsel lewat tujuh kategori: harga dan ketersediaan, desain, layar, kamera, performa, baterai dan pengisian daya, serta software dan fitur AI. Hasilnya bukan kemenangan mutlak satu pihak, karena masing-masing punya keunggulan yang sulit disaingi rivalnya.
Kenaikan harga 100 dolar AS membuat iPhone 18 Pro Max menyamai Galaxy S26 Ultra di angka 1.299 dolar AS (sekitar Rp 21,4 juta). Samsung tak lagi lebih mahal dari Apple seperti generasi sebelumnya.
Galaxy S26 Ultra yang rilis lebih awal sudah bisa didapat dengan diskon besar lewat promo operator. iPhone 18 Pro Max baru meluncur September dengan penawaran perdananya sendiri. Untuk varian dasar berkapasitas sama, tak ada yang berhasil mengalahkan harga rivalnya. Kategori ini berakhir imbang.
Keduanya punya kualitas build kelas atas, tapi pendekatannya berbeda jauh. iPhone 18 Pro Max tampil lebih halus berkat tepian melengkung yang melembutkan rangka aluminium, meski bobotnya 249 gram menjadikannya iPhone terberat sejauh ini.
Galaxy S26 Ultra mengusung desain kotak industrial yang terasa lebih ringan di tangan, 214 gram, sekaligus menyediakan rumah khusus untuk S Pen. Stylus bawaan itu masih jadi keunggulan produktivitas yang belum bisa disamai Apple. Meski begitu, dari sisi finishing premium dan ergonomi, iPhone 18 Pro Max dinilai lebih memukau. Kategori ini jatuh ke Apple.
Panel iPhone 18 Pro Max menembus 2.326 nits kecerahan puncak, lebih tinggi dari 1.806 nits milik Galaxy S26 Ultra. Lapisan anti-reflektif barunya juga membuat layar tetap nyaman dibaca di bawah sinar matahari langsung.
Samsung membalas dengan Privacy Display yang tertanam langsung di panel OLED, bukan lewat pelindung layar pihak ketiga. Teknologi ini menghalangi pandangan orang lain dari segala sisi, berguna saat berada di kereta atau transportasi umum. Bagi penguji, inovasi privasi ini lebih bernilai dibanding tambahan nits. Galaxy S26 Ultra menang di kategori ini.
Apple akhirnya menutup celah kontrol kreatif lewat Pro Controls, yang memungkinkan pengaturan manual kecepatan rana, white balance, fokus, hingga aperture fisik. Mekanisme aperture variabel jadi pembeda utama: bilah fisiknya bisa membuka sampai f/1.48 untuk menelan cahaya, atau menutup ke f/4.0 agar seluruh lanskap tajam.
Di kondisi minim cahaya, aperture lebih lebar iPhone menghasilkan gambar lebih tajam, sementara Galaxy S26 Ultra tampak lebih lembut di tepian. iPhone juga unggul dalam dynamic range, warna kulit, dan penanganan cahaya matahari langsung pada potret.
Samsung bukan tanpa amunisi. Fitur Horizon Lock menjaga video tetap stabil secara horizontal, dan lensa periskop 5x memberi jangkauan optik lebih panjang dari telefoto 4x Apple. Pada zoom 40x, pemrosesan gambar Galaxy S26 Ultra bahkan membuat tulisan kecil di papan tanda lebih mudah dibaca. Namun secara keseluruhan, performa cahaya redup dan kontrol aperture manual membuat iPhone 18 Pro Max unggul.
Chip A20 Pro di iPhone 18 Pro Max mencetak skor Geekbench 6 single-core 4.741 dan multi-core 12.789, jauh di atas 3.785 dan 11.563 milik Galaxy S26 Ultra. Di 3DMark Solar Bay Unlimited, iPhone mencatat 67,9 fps dengan skor 17.850, sedangkan Galaxy S26 Ultra 49,37 fps dengan skor 12.984.
Namun pemrosesan neural on-device berbalik arah. Galaxy S26 Ultra mencetak 83.047 di Geekbench AI 1.7 lewat TensorFlow Lite QNN, mengalahkan 71.974 milik iPhone 18 Pro Max. Artinya, chip Qualcomm masih lebih unggul untuk tugas machine learning kompleks. Meski begitu, keunggulan komputasi dan grafis membuat Apple menang di kategori ini.
Dalam uji pengurasan baterai, iPhone 18 Pro Max bertahan 18 jam 27 menit, sementara Galaxy S26 Ultra 16 jam 40 menit. Selisih hampir dua jam ini berarti bagi pengguna berat, penonton streaming, dan komuter yang jarang mengisi daya.
Keduanya mendukung pengisian kabel 60W. iPhone 18 Pro Max mencapai 80 persen dalam 30 menit, sedikit lebih cepat dari 77 persen milik Galaxy S26 Ultra. Apple menyapu kategori ini.
iPhone 18 Pro Max berjalan di iOS 27 dengan tampilan Liquid Glass, sementara Galaxy S26 Ultra memakai One UI 9 di atas Android 17. Apple menambah alat AI baru seperti Reframe dan Photo Clean Up yang lebih rapi, plus kemampuan membuat pass langsung di aplikasi Wallet.
Kehadiran Siri AI membuat interaksi jadi lebih proaktif, misalnya langsung menampilkan aksi relevan saat ada pesan berisi jadwal atau alamat. Siri AI juga menangani tugas suara bertahap di CarPlay baru.
Meski begitu, Gemini Live dan Galaxy AI di Galaxy S26 Ultra tetap jadi patokan. Gemini mampu menjalankan otomasi bertahap, termasuk memesan makanan lewat aplikasi pengiriman, dan fitur kamera multimodalnya membuka kegunaan baru. Samsung DeX juga mengubah ponsel jadi workstation desktop penuh saat dicolok ke monitor atau kacamata pintar. Kategori ini milik Samsung.
Dari tujuh kategori, iPhone 18 Pro Max menang di desain, kamera, performa, dan baterai, plus satu kategori imbang di harga. Galaxy S26 Ultra hanya menang di layar serta software dan AI.
iPhone 18 Pro Max cocok untuk pengguna yang mengutamakan tenaga komputasi, daya tahan baterai, dan kualitas kamera cahaya redup. Galaxy S26 Ultra lebih pas bagi yang butuh AI canggih, S Pen, dan mode desktop DeX dalam satu perangkat.