BANDAR LAMPUNG — Wahrul Fauzi Silalahi menegaskan bahwa kelulusan dari perguruan tinggi hanyalah langkah awal bagi para sarjana untuk membuktikan manfaat ilmunya. Pesan ini disampaikannya di hadapan peserta Yudisium Fakultas Hukum Unila yang juga dikenal sebagai pengacara rakyat sekaligus Anggota DPRD Provinsi Lampung tersebut.
Wahrul mengingatkan bahwa gelar sarjana hukum membawa konsekuensi moral yang besar. Ilmu yang diperoleh selama duduk di bangku kuliah harus mampu diterjemahkan menjadi aksi nyata, bukan sekadar menjadi formalitas untuk mencari pekerjaan.
Menurut Wahrul, dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat akan menghadirkan persoalan yang jauh lebih kompleks dibandingkan ujian di kampus. Karena itu, keterlibatan dalam organisasi dan kegiatan sosial menjadi bekal penting untuk membangun empati serta kepekaan terhadap persoalan publik.
“Sebentar lagi ‘kan bergelar sarjana dan hidup di tengah-tengah masyarakat. Sebagai pemuda, terlibat dalam kegiatan sosial menjadi modal yang penting dalam bermasyarakat. Tentu hal ini harus juga dibarengi dengan rasa hormat dan patuh terhadap orang tua,” ujar Wahrul dalam keterangannya, Selasa (19/8/2026).
Di tengah semangat membangun karier, Wahrul mengingatkan para sarjana untuk tidak melupakan jasa orang tua. Keberhasilan yang diraih tidak bisa dilepaskan dari doa, dukungan, serta pengorbanan mereka selama menempuh pendidikan.
Rasa hormat dan kepatuhan kepada orang tua, kata dia, harus tetap menjadi pijakan utama meski seseorang telah meraih pendidikan tinggi dan memasuki dunia profesional.
Wahrul berharap nilai-nilai yang diperoleh selama berada di Kampus Hijau dapat dibawa para alumni ke tengah masyarakat. Ia optimistis mereka mampu mengambil peran sebagai agen perubahan dengan memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.
“Saya yakin para alumni Fakultas Hukum Unila mampu menjadi agen perubahan yang memberikan kontribusi nyata serta berdampak luas bagi kemajuan nusa dan bangsa,” pungkasnya.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa perjalanan setelah yudisium bukan sekadar tentang membangun karier. Lebih dari itu, perjalanan ini adalah tentang bagaimana ilmu, integritas, kepedulian sosial, dan bakti kepada orang tua dapat berjalan beriringan dalam kehidupan.