PRINGSEWU — Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri di Pekon Gadingrejo Utara, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, kini memproduksi media tanam jamur secara mandiri. Tim dosen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) melatih mereka membuat baglog sendiri sekaligus mengubah limbah budidaya menjadi bahan bakar alternatif.
Program ini merupakan bagian dari Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026. Skemanya adalah Pengabdian kepada Masyarakat-Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM).
Ketua Tim PKM Polinela, Yeni, merancang pendampingan ini untuk mendorong kemandirian kelompok. Targetnya bukan sekadar membudidayakan jamur, tetapi juga memproduksi baglog sendiri dan mengolah limbahnya menjadi produk bernilai ekonomi.
"Kami ingin masyarakat tidak hanya mampu membudidayakan jamur dengan baik, tetapi juga memiliki keterampilan memproduksi baglog sendiri dan memanfaatkan limbahnya menjadi produk yang bernilai tambah. Dengan demikian, biaya produksi dapat ditekan, usaha menjadi lebih mandiri, dan limbah tidak lagi menjadi persoalan lingkungan," kata Yeni, Senin (25/5).
Hasil evaluasi tim menunjukkan peningkatan kapasitas yang signifikan. Pengetahuan anggota KWT tentang teknologi produksi baglog dan pembuatan biobriket melonjak drastis—dari sekitar lima persen sebelum pelatihan menjadi 98 persen setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Pendampingan tidak berhenti pada teori. Tim Polinela membekali peserta dengan praktik langsung, mulai dari pemilihan bahan baku, formulasi media tanam, pencampuran, pengemasan, sterilisasi, inokulasi bibit, hingga proses inkubasi sesuai standar budidaya jamur.
Peserta juga dilatih mengolah limbah baglog menjadi biobriket. Prosesnya meliputi pengeringan, karbonisasi, pencampuran perekat, pencetakan, hingga pengeringan sebagai bahan bakar alternatif.
Ketua KWT Mandiri, Suprapti, mengaku pendampingan ini membuka wawasan baru bagi anggota kelompoknya. Selama ini mereka selalu membeli baglog dari luar daerah.
"Setelah mendapatkan pelatihan dan pendampingan, kami mampu membuat baglog sendiri dengan kualitas yang lebih baik. Kami juga baru mengetahui bahwa limbah baglog dapat diolah menjadi biobriket yang memiliki nilai ekonomi. Pengetahuan dan keterampilan anggota meningkat sangat pesat karena kami belajar langsung melalui praktik," ujarnya.
Kepala Pekon Gadingrejo Utara, Kirmanto, mengapresiasi sinergi perguruan tinggi dan masyarakat dalam pemberdayaan ekonomi desa. Menurutnya, program ini memberi keterampilan yang langsung bisa diterapkan untuk menambah pendapatan sekaligus mengurangi limbah pertanian.
"Kami melihat prospek usaha jamur di Pekon Gadingrejo Utara cukup baik. Dengan kemampuan memproduksi baglog sendiri dan memanfaatkan limbah menjadi biobriket, masyarakat tidak hanya memperoleh tambahan pendapatan, tetapi juga ikut menjaga lingkungan. Ini merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat ekologis," kata Kirmanto.
Pemerintah pekon berkomitmen mendukung keberlanjutan program ini melalui kolaborasi dengan kelompok tani dan pemangku kepentingan lain. Harapannya, budidaya jamur bisa berkembang menjadi salah satu sektor unggulan desa.
Suprapti berharap pendampingan terus berlanjut agar KWT Mandiri mampu mengembangkan usaha secara lebih mandiri. Ia juga ingin kelompoknya menjadi percontohan bagi kelompok tani lain di Kabupaten Pringsewu.
Program ini sekaligus menjadi implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penerapan hasil riset dan inovasi kepada masyarakat. Kolaborasi Polinela dan KWT Mandiri diharapkan mempercepat adopsi teknologi tepat guna yang berdampak pada kesejahteraan, ketahanan pangan, dan pengembangan ekonomi sirkular berbasis pedesaan.