LAMPUNG — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot 2,16% ke level 5.814 pada perdagangan sesi pertama Kamis (15/10). Investor asing mencatatkan net foreign sell Rp 182,94 miliar, dengan TLKM, GOTO, dan ADRO menjadi tiga saham yang paling banyak dilepas. Seluruh sebelas sektor di BEI kompak berada di zona merah, dipimpin sektor energi yang terperosok 3,71%.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai transaksi saham siang ini mencapai Rp 8,57 triliun dengan volume 22,43 miliar saham dan frekuensi 1,09 juta kali. Kapitalisasi pasar IHSG tercatat Rp 10.225 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, hanya 80 saham menguat, 621 saham terkoreksi, dan 89 saham stagnan.
Tekanan jual asing terpusat pada tiga emiten berkapitalisasi besar. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dilepas asing senilai Rp 34,93 miliar, disusul PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) Rp 25,86 miliar, dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) Rp 18,11 miliar. Ketiganya merupakan saham dengan likuiditas tinggi yang kerap jadi barometer arah dana asing di pasar domestik.
Seluruh Sektor Kompak di Zona Merah, Energi Paling Terdalam
Dari sebelas sektor yang ada di BEI, tidak ada satu pun yang berhasil bertahan di teritori positif. Sektor energi mencatat penurunan paling dalam dengan koreksi 3,71%, menjadikannya sektor paling tertekan pada sesi ini.
PT Petrosea Tbk (PTRO) menjadi salah satu saham energi yang terpuruk, turun 4,85% ke Rp 3.920. Pelemahan sektor energi sejalan dengan tekanan yang juga menerpa bursa regional Asia.
Bursa saham Asia seluruhnya berada di zona merah. Indeks Hang Seng turun 1,33%, Nikkei terkoreksi 4,52%, Shanghai Composite turun 2,24%, dan Straits Times tergelincir 0,69%. Koreksi Nikkei yang mencapai lebih dari 4% menjadi yang paling dalam di kawasan.
Kinerja IHSG Sebulan dan Sejak Awal Tahun
Secara year to date (ytd), IHSG telah anjlok 32,75%. Dalam sebulan terakhir saja, indeks tergelincir 10,02%. Angka ini menempatkan pasar saham Indonesia di antara bursa dengan kinerja terlemah di Asia untuk periode tersebut.
Tekanan jual yang berlangsung terus-menerus membuat posisi investor asing semakin agresif mengurangi eksposur di pasar domestik. Net sell Rp 182,94 miliar di sesi pertama ini menambah panjang deretan aksi jual asing yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Saham yang Bertahan Menguat di Tengah Tekanan
Di tengah koreksi merata, sejumlah saham masih berhasil mencatatkan penguatan. Berikut daftar top gainers sesi pertama:
- PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) naik 1,91% ke Rp 320
- PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) naik 1,73% ke Rp 2.350
- PT Argo Pantes Tbk (ARGO) naik 1,60% ke Rp 1.270
Sementara saham yang mencatat penurunan terdalam atau top losers sesi ini:
- PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) turun 12,40% ke Rp 438
- PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) turun 8,85% ke Rp 474
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) turun 8,11% ke Rp 510
Penurunan VKTR sebesar 12,40% menjadikannya saham dengan koreksi terbesar pada sesi pertama, jauh melampaui rata-rata penurunan harian saham di papan utama.
Tekanan Regional dan Sentimen yang Perlu Dicermati
Koreksi serentak di bursa Asia menunjukkan tekanan yang bersifat regional, bukan hanya persoalan domestik. Nikkei yang turun 4,52% dan Shanghai Composite yang melemah 2,24% mengindikasikan investor di kawasan sedang mengurangi risiko secara menyeluruh.
Bagi investor domestik, kombinasi antara net sell asing yang berlanjut dan pelemahan seluruh sektor menjadi sinyal perlunya kehati-hatian dalam mengambil posisi. Saham-saham berkapitalisasi besar yang biasanya menjadi tempat parkir dana asing kini justru menjadi sasaran utama aksi jual.
Dinamika sesi kedua akan menjadi penentu apakah IHSG mampu memangkas koreksi atau justru memperdalam penurunan. Perhatikan apakah net sell asing berlanjut membesar dan apakah ada sektor yang mulai berbalik ke zona hijau.