LAMPUNG — Penelitian di jurnal Atmosphere mengungkap konsentrasi PM2.5 di dalam rumah warga Kalimantan Tengah saat karhutla 2023 hampir setara dengan luar ruangan, dengan rasio median 1,01 di wilayah perdesaan. Temuan ini menantang asumsi bahwa menutup pintu-jendela dan menyalakan AC sudah cukup melindungi penghuni dari paparan asap.
Studi berjudul "Wildfire smoke indoors: A review of infiltration risk factors and exposure mitigation strategies" itu mengukur paparan partikel halus di 13 titik perkotaan dan perdesaan Kalimantan Tengah selama musim kering 2023. Tim peneliti dari Oregon State University, Amerika Serikat, menempatkan sensor di dalam dan luar rumah untuk membandingkan konsentrasi PM2.5 secara langsung.
Rata-rata konsentrasi PM2.5 di luar ruangan selama periode pengamatan mencapai 136 mikrogram per meter kubik. Sekitar 90 mikrogram per meter kubik di antaranya berasal dari kebakaran hutan dan lahan yang berlangsung berbulan-bulan.
Mengapa Asap Tetap Menembus Rumah
PM2.5 adalah partikel berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya memungkinkan partikel terbawa aliran udara dan menyusup lewat celah pintu, jendela, sambungan bangunan, hingga ventilasi.
Rumah dengan banyak bukaan alami nyaris tidak punya perlindungan berarti saat udara luar sangat tercemar. Ketika konsentrasi PM2.5 di luar melonjak, partikel yang masuk membuat kualitas udara dalam ruangan ikut memburuk.
Peneliti Nathan Bolden, Kiernan Kilkenny, dan Nordica MacCarty mencatat rasio median konsentrasi PM2.5 dalam dan luar rumah di perdesaan mencapai 1,01. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan rasio serupa yang dilaporkan selama kebakaran hutan di Amerika Serikat.
Keterbatasan AC dan Pembersih Udara
Banyak AC rumah hanya mendinginkan dan mengedarkan kembali udara dalam ruangan, bukan menyaring seluruh PM2.5 yang masuk dari luar. Kemampuan pembersih udara pun bergantung pada jenis filter, kapasitas alat terhadap luas ruangan, dan tingkat pencemaran yang harus dibersihkan.
Kombinasi keduanya belum tentu mampu mempertahankan kualitas udara yang baik ketika asap di luar sangat pekat. Perangkat tersebut tetap berguna, tetapi perlindungannya memiliki batas yang jelas.
Studi yang diterbitkan pada 2024 itu memperkirakan sekitar 1,62 juta orang di Kalimantan Tengah terpapar kualitas udara tidak sehat hingga berbahaya selama musim kering yang diteliti.
Dampak Lintas Negara dan Respons yang Dibutuhkan
Laporan Associated Press (9/10) menyebut warga Kalimantan Barat masih menghadapi asap pekat setelah kebakaran berlangsung lebih dari tiga bulan. Dampaknya menjalar ke negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura.
Peneliti menilai perbaikan desain bangunan agar lebih mampu membatasi masuknya polusi perlu berjalan bersama upaya menekan kebakaran gambut sebagai sumber utama asap. Pendekatan ini menegaskan bahwa masalah paparan asap tidak bisa diselesaikan hanya dengan imbauan agar masyarakat tetap berada di dalam rumah.
Selama kebakaran masih berlangsung, udara tercemar dapat terus masuk ke ruang yang seharusnya menjadi tempat berlindung. Persoalan kesehatan akibat karhutla bukan hanya soal seberapa jauh seseorang tinggal dari titik api, melainkan juga seberapa besar paparan polusi yang akhirnya masuk ke rumahnya.