LAMPUNG — Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh GM China kepada National Business Daily pada Senin (10/8). Penjualan ritel Chevrolet di China berhenti total, tetapi perusahaan patungan GM dengan SAIC Motor masih akan memproduksi kendaraan bermerek Chevrolet di pabrik mereka. Produksi tersebut kini diarahkan untuk pasar ekspor, bukan domestik.
John Roth, Wakil Presiden Eksekutif GM Global sekaligus Presiden GM China, menegaskan bahwa kapabilitas operasional lokal yang dimiliki perusahaan patungan ini menjadi modal utama. "Kami melihat peluang besar untuk melangkah melampaui Tiongkok dan menjangkau dunia," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Pabrik China Jadi Basis Ekspor ke Lima Wilayah
Strategi baru ini memanfaatkan jaringan produksi yang sudah mapan di China. GM menyebut kapabilitas lokal yang kuat akan dipakai untuk menembus pasar Timur Tengah, Afrika, Amerika Selatan, Meksiko, dan Asia-Pasifik.
Dukungan jaringan penjualan dan layanan purnajual global GM yang luas menjadi tulang punggung strategi ekspor ini. Jajaran produk Chevrolet saat ini dinilai lebih cocok untuk memenuhi permintaan pasar ekspor dibanding kebutuhan konsumen domestik China.
Data dari China Passenger Car Association (CPCA) mencatat ekspor kendaraan Chevrolet dari China pada paruh pertama 2026 mencapai 6.930 unit. Angka ini tumbuh 6,9 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Nasib 7,5 Juta Pemilik Chevrolet di China
Kekhawatiran terbesar pemilik Chevrolet di China adalah kelangsungan layanan perawatan. GM memberikan jaminan tertulis bahwa jaringan dealer tetap beroperasi dan pasokan suku cadang tidak akan terganggu.
Perusahaan menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan layanan purnajual bagi pemilik kendaraan Chevrolet di Tiongkok. Hal ini mencakup perawatan berkala, perbaikan, dan ketersediaan komponen pengganti.
Dari Puncak 767.000 Unit ke Jurang Penurunan
Chevrolet masuk pasar China pada 2005 dan sempat merasakan masa keemasan. Puncaknya terjadi pada 2014 ketika penjualan ritel tahunan menyentuh 767.000 unit, ditopang model-model populer seperti Cruze.
Penurunan mulai terasa sekitar 2018. Beberapa faktor disebut sebagai pemicu: penggunaan mesin tiga silinder yang menuai kontroversi di kalangan konsumen, kebangkitan merek domestik China yang agresif, serta penetrasi kendaraan listrik yang berlangsung sangat cepat.
Kombinasi faktor tersebut membuat posisi Chevrolet semakin terdesak di pasar otomotif terbesar dunia itu. Keputusan menghentikan penjualan ritel menjadi langkah logis setelah bertahun-tahun tren penjualan terus menurun.
Bagi konsumen Indonesia, kabar ini menarik untuk dicermati. GM menyebut Asia-Pasifik sebagai salah satu target ekspor, dan pasar Indonesia berpotensi menjadi salah satu tujuannya. Namun belum ada pernyataan resmi mengenai kemungkinan masuknya kendaraan Chevrolet produksi China ke Indonesia.