Ni Nengah Widiasih Raih Perunggu Pertama Indonesia di Asian Para Games 2026

Penulis: Rizal Fikri  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 16:36:01 WIB
Lifter Ni Nengah Widiasih meraih medali perunggu kelas 41 kg putri pada Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang.

LAMPUNG — Ni Nengah Widiasih menyumbangkan medali pertama untuk kontingen Indonesia di Asian Para Games 2026 setelah finis ketiga di kelas 41 kg putri dengan angkatan terbaik 97 kg. Perunggu di Nagoya City Trade and Industry Center, Prefektur Aichi, Jepang, itu melanjutkan tradisi medali lifter asal Bali tersebut di empat edisi beruntun ajang ini.

Kompetisi kelas 41 kg putri berlangsung Senin (19/10) siang waktu setempat. Widi harus mengakui keunggulan Zhe Chui dari China yang mencatat angkatan 120 kg, disusul Tursynay Kabyl asal Kazakhstan dengan 104 kg.

Bagi Widi, hasil ini memperpanjang catatan medali yang ia kumpulkan sejak edisi 2014, 2018, hingga 2022. Tiga edisi sebelumnya ia selalu membawa pulang perak. Kini warnanya berubah menjadi perunggu.

Pindah Kelas Cui Zhe Persulit Jalan Widi ke Perak

Ambisi Widi mempertahankan perak mendapat hambatan berat. China memindahkan Cui Zhe dari kelas 45 kg ke kelas 41 kg, mengikuti langkah yang juga diambil Widi. Cui Zhe bukan nama sembarangan: ia peraih emas kelas 45 kg di Asian Para Games 2022.

Kabyl juga bukan lawan baru. Lifter Kazakhstan itu merupakan peraih perak kelas 41 kg putri pada edisi 2022 lalu. Artinya, dua pesaing terberat Widi di kelas ini sama-sama punya catatan medali dari edisi sebelumnya.

Cedera Bahu Bikin Widi Tak Bisa Tampil Penuh

Penurunan warna medali bukan tanpa sebab. Widi sempat mengalami cedera robek otot bahu dalam kejuaraan di Mesir akhir tahun lalu. Kondisi itu membuat atlet berusia 33 tahun tersebut belum bisa bertanding dengan kapasitas maksimal.

"Ini medali perunggu pertama yang saya dapatkan sepanjang keikutsertaan saya di Asian Para Games. Biasanya saya selalu memperebutkan emas dan perak," ujar Widi selepas pertandingan.

Meski demikian, ia menegaskan tetap berusaha menaikkan beban angkatan di setiap sesi. Tujuannya bukan sekadar medali, melainkan memperbaiki peringkat dunia demi mengamankan tiket ke Paralimpiade Los Angeles.

"Kondisi saya belum pulih 100 persen karena cedera bahu. Namun, saya berusaha semaksimal mungkin menaikkan beban angkatan di setiap sesi karena ingin memperbaiki world ranking demi mengamankan tiket ke Paralimpiade Los Angeles," ujarnya.

Peta Persaingan Kelas 41 Kg Kini Dihuni Atlet Muda

Selain faktor cedera, Widi menyoroti munculnya generasi baru di kelasnya. Persaingan yang makin ketat membuat posisinya sebagai salah satu lifter senior semakin teruji.

"Sekarang di kelas saya banyak sekali atlet muda. Saya dan atlet asal China rasanya sudah seperti legenda di antara mereka. Namun, saya bersyukur masih bisa menjaga performa dan bersaing dengan atlet-atlet muda ini," katanya.

Sinyal Pensiun dan Target Paralimpiade Kelima

Widi mengisyaratkan Asian Para Games kali ini kemungkinan besar menjadi penampilan terakhirnya. Namun fokusnya sekarang bukan pada perpisahan, melainkan pemulihan fisik bersama tim medis di Solo dan pengejaran poin kualifikasi Paralimpiade LA 2028.

"Saya punya tim medis dan fisioterapis di Solo yang terus mendampingi pemulihan bahu saya. Target utama saya saat ini adalah fokus menyembuhkan cedera dan mengejar peringkat dunia agar bisa lolos ke Paralimpiade LA dua tahun lagi, yang kemungkinan akan menjadi Paralimpiade kelima sekaligus penutup karier saya," ucap Widi.

Perunggu ini menjadi pembuka perjalanan kontingen Indonesia di Aichi. Bagi Widi sendiri, tambahan medali keempat di ajang ini menegaskan posisinya sebagai salah satu lifter para angkat besi paling konsisten yang dimiliki Indonesia.

Reporter: Rizal Fikri
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top