LAMPUNG — Pasar valuta asing menahan posisi menjelang pembukaan pekan, dengan rupiah berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.890 hingga Rp17.950 per dolar AS. Tekanan datang dari pelebaran defisit APBN per akhir kuartal ketiga 2026 yang menyentuh Rp319 triliun atau 1,24% dari PDB. Pelaku pasar mencermati ketahanan kas negara di tengah volatilitas harga komoditas energi global.
Pengamat Ekonomi Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut pasar merespons langsung rilis kinerja fiskal domestik yang menunjukkan defisit anggaran merangkak naik dibanding posisi akhir Agustus 2026. Menurut analisisnya, rentang pelemahan rupiah pada perdagangan Senin (12/10/2026) berada di Rp17.890 hingga Rp17.950 per dolar AS.
"Pergerakan rupiah pada perdagangan Senin ini cenderung fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp17.890 hingga Rp17.950 per dolar AS. Pasar merespons pelebaran defisit APBN per September 2026 yang menyentuh Rp319 triliun atau setara 1,24 persen dari PDB," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Senin (12/10/2026).
Realisasi belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun atau tumbuh 19,0% secara tahunan. Angka itu setara 69,2% dari pagu belanja tahunan Rp3.842,7 triliun.
Dari sisi penerimaan, pendapatan negara terhimpun Rp2.341,5 triliun atau tumbuh 25,5% YoY. Realisasi itu mencapai 74,2% dari target setahun penuh Rp3.153,6 triliun.
Kendati laju pendapatan tumbuh lebih tinggi dibanding belanja, volume pengeluaran yang lebih masif tetap memicu defisit. Posisi defisit masih berada di bawah target akhir tahun pemerintah sebesar 2,8% dari PDB.
Perbandingan antarperiode menunjukkan tekanan fiskal yang menguat. Berikut rincian posisi defisit dan kinerja anggaran:
Kekhawatiran pasar uang bertambah seiring tingginya sensitivitas pengeluaran negara terhadap fluktuasi komoditas energi dunia. Lonjakan harga minyak mentah global dinilai dapat memperberat postur anggaran subsidi di sisa tahun berjalan.
Kondisi tersebut memicu kehati-hatian pelaku pasar valuta asing dalam mencermati ketahanan kas negara. Bagi investor, pelemahan rupiah berpotensi menekan imbal hasil aset berdenominasi dolar sekaligus meningkatkan biaya impor bahan baku bagi emiten yang bergantung pada komponen luar negeri.
Pergerakan rupiah sepanjang sesi akan bergantung pada respons pasar terhadap data fiskal tersebut. Pelaku usaha yang memiliki eksposur utang valas perlu mencermati rentang Rp17.890 hingga Rp17.950 sebagai level acuan pelemahan jangka pendek.