LAMPUNG — Lompong sagu, penganan tradisional berbahan tepung sagu dan pisang, masih dibuat secara turun-temurun di kawasan Rumah Gadang Datuk Rajo Ibrahim, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat. Hidangan ini dibakar dengan serabut kelapa, bukan arang, sehingga aromanya harum dan matangnya merata hingga ke dalam. Keberadaannya kini kian langka sehingga kerap jadi buruan pelancong yang mencari wisata kuliner autentik Minang.
Nama lompong sagu muncul dalam lagu daerah Minang yang liriknya berbunyi "Lompong sagu, lompong sagu, di tangah-tangah karambia mudo". Lirik itu jadi penanda bahwa penganan ini pernah jadi primadona di meja acara adat masyarakat setempat. Kini, pembuatnya bisa dihitung jari.
Di Kecamatan Kuranji, Ibu Titin bertahan sebagai salah satu pembuat lompong sagu yang masih setia pada cara lama. Ia mengolah adonan di kawasan Rumah Gadang Datuk Rajo Ibrahim, tempat yang sekaligus jadi tujuan wisata sejarah bagi pengunjung Kota Padang.
Adonan dasar lompong sagu hanya terdiri dari empat bahan. Ibu Titin merincinya sendiri saat ditemui di kedainya.
"Sagu, kelapa, pisang, dan di tengah-tengahnya ada gula aren," ujarnya.
Gula aren yang diselipkan di bagian tengah adonan oleh orang Minang disebut gulo saka. Posisinya bukan tanpa alasan: saat dibakar, gula itu meleleh dan jadi isian legit yang menyatu dengan pisang lunak dan parutan kelapa.
Titik pembeda lompong sagu ada di proses pembakarannya. Ibu Titin memakai serabut kelapa sebagai bahan bakar, pilihan yang jarang ditemui pada penganan tradisional lain.
"Kalau pakai serabut kelapa baunya harum, masaknya sampai ke dalam. Kalau pakai batok kelapa tidak sampai ke dalam, kadang ada yang kurang matang dalamnya," jelasnya.
Serabut kelapa menghasilkan panas yang lebih stabil dan merata, sehingga bagian tengah adonan ikut matang sempurna. Efeknya terasa pada aroma dan tekstur akhir yang tidak bisa ditiru dengan arang atau batok.
Lompong sagu paling nikmat disantap selagi panas. Pengunjung bisa langsung membuka bungkusan daun pisangnya yang menghitam bekas bakar, atau meminta disajikan di piring dengan taburan kelapa parut.
Dalam tradisi Minangkabau, sajian ini tergolong istimewa. Lompong sagu hadir di pesta pernikahan, acara mendoa, hingga perayaan khitanan, bukan sebagai camilan sehari-hari.
Kedai Ibu Titin tidak hanya menjual lompong sagu. Ada dua lauk tradisional yang jadi pendamping, yaitu palai balado dan palai bada.
Palai balado adalah pepes ikan berbumbu ulekan cabai balado khas Minang. Sementara palai bada memakai campuran parutan kelapa dengan ikan teri atau bada.
Kesegaran bahan lautnya dijaga ketat. Ibu Titin berangkat pagi buta menuju Pasar Gaung, salah satu pusat pasokan ikan paling segar di Kota Padang, meski jaraknya terbilang jauh dari Limau Manis.
Di pasar-pasar tradisional, lompong sagu masih sesekali muncul. Namun jumlahnya terbatas dan sering habis diborong pembeli sebelum siang.
Kondisi itu membuat lompong sagu lebih tepat diburu langsung ke pembuatnya. Datang lebih awal jadi kunci, karena produksi harian biasanya tidak bertahan lama.
Durasi kunjungan ke kedai di Kuranji cukup sekitar satu jam, termasuk menikmati lompong sagu dan palai. Sisihkan waktu lebih panjang bila ingin sekaligus menelusuri kawasan Rumah Gadang Datuk Rajo Ibrahim yang jadi latar tempatnya.