Pemerintah Provinsi Lampung menilai ruas Jalan Tol Lematang-Panjang akan memperkuat konektivitas kawasan industri dengan Pelabuhan Panjang. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyatakan jalan tol perlu diarahkan agar memberi manfaat ekonomi nyata, bukan sekadar memangkas jarak antarkota. Pemprov juga mendorong penguatan hilirisasi komoditas unggulan daerah.
BANDARLAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung menyebut rencana pembangunan ruas Jalan Tol Lematang-Panjang sebagai penguat konektivitas kawasan industri dengan Pelabuhan Panjang. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan infrastruktur itu tidak berhenti pada fungsi penghubung antarkota.
"Jalan tol bukan sekadar menghubungkan kota, tetapi menghubungkan produksi dan pasar, investasi dan peluang, serta konektivitas dengan kesejahteraan," ujar Rahmat dalam keterangannya di Bandarlampung, Senin.
Rahmat menilai kemudahan akses transportasi harus diiringi penguatan ekonomi daerah. Tanpa dukungan kebijakan yang tepat, keterbukaan akses justru bisa menekan pelaku usaha lokal.
"Kemudahan akses transportasi perlu diiringi dengan penguatan ekonomi daerah. Tanpa dukungan kebijakan yang tepat, konektivitas yang semakin terbuka juga dapat meningkatkan persaingan bagi pelaku usaha lokal, termasuk sektor pertanian dan industri pengolahan," ucap dia.
Ia menyoroti sektor pertanian dan industri pengolahan sebagai dua bidang yang paling rentan terdampak jika kebijakan pendamping tidak disiapkan.
Pemprov Lampung mendorong penguatan hilirisasi agar komoditas unggulan tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Komoditas diarahkan diolah menjadi produk bernilai tambah.
Dengan begitu, manfaat ekonomi dari aktivitas produksi, pengolahan, hingga distribusi diharapkan lebih dirasakan di Lampung.
"Tol dipakai untuk mengubah struktur PDRB kami, dari sektor primer didorong hilirisasi menjadi sektor industri olahan, dan selain itu peran jalan tol dalam mendukung pengembangan pariwisata pun penting," katanya.
Jumlah kunjungan wisatawan ke Lampung meningkat dari 17 juta orang pada 2024 menjadi 27 juta orang pada 2025. Lonjakan itu disebut menunjukkan besarnya potensi pergerakan ekonomi yang bisa didukung konektivitas transportasi.
Namun, Rahmat mengingatkan manfaat jalan tol bergantung pada kondisi jalan penghubung dari kawasan produksi, permukiman, dan destinasi wisata menuju akses tol.
"Namun, manfaat jalan tol juga bergantung pada kondisi jalan penghubung dari kawasan produksi, permukiman, dan destinasi wisata menuju akses tol. Oleh karena itu, peningkatan kualitas jalan provinsi, kabupaten, dan desa menjadi bagian penting untuk memperlancar mobilitas orang dan barang," tambahnya.
Dalam pengembangan kawasan industri, akses terhadap jalan tol menjadi salah satu hal yang diperhatikan investor. Pemprov menilai pembangunan infrastruktur tol perlu diarahkan untuk memberi manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.
"Oleh karena itu, pembangunan infrastruktur jalan tol perlu diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat. Keberhasilan jalan tol tidak cukup diukur dari panjang ruas dan kemudahan konektivitas, tetapi juga dari sejauh mana infrastruktur tersebut mampu menghubungkan sentra produksi dengan pasar, mendorong investasi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujar dia.