Komite Gabungan TNWK Bangun 8 dari 12 Sumur dan Kirim 10 Pompa Air untuk Cegah Karhutla di Lampung Timur

Penulis: Rendi Kusuma  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 07:59:32 WIB
Komite Gabungan TNWK membangun 8 dari 12 sumur bor untuk mencegah karhutla di Lampung Timur.

Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) melengkapi sarana dan prasarana pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan konservasi Lampung Timur. Dari target 12 sumur bor, delapan titik sudah mengeluarkan air dan siap dipakai, sementara 10 unit mesin pompa air beserta selang telah disalurkan ke lapangan. Pembuatan sumur diprioritaskan di wilayah tengah hingga utara TNWK yang kondisinya kering dan sulit akses air.

BANDARLAMPUNG — Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto, menyatakan penguatan fasilitas pencegahan karhutla berjalan bersamaan dengan penyiapan konservasi gajah dan penghijauan kawasan. Sebanyak 10 unit mesin pompa air berikut perlengkapan selangnya sudah disalurkan ke titik-titik rawan.

Pembangunan sumur menjadi andalan komite untuk menjamin pasokan air saat penanganan kebakaran. Delapan dari 12 sumur yang ditargetkan sudah mengeluarkan air dan bisa langsung digunakan.

Mengapa Sumur Diprioritaskan di Tengah hingga Utara TNWK

Wilayah tengah sampai utara TNWK dipilih karena kondisinya cenderung kering dan akses air sulit dijangkau. Dua karakter itu membuat kawasan tersebut paling rentan terbakar saat musim kemarau.

"Guna memitigasi karhutla kami juga membuat sumur di area rawan kekeringan untuk menjamin ketersediaan pasokan air saat penanganan kebakaran," kata Sriyanto di Bandarlampung, Selasa.

Sisa sumur yang belum rampung ditargetkan selesai dalam waktu dekat. Komite menilai kehadiran sumber air baru bisa memangkas risiko karhutla sekaligus menopang pemulihan ekosistem Way Kambas.

10 Pompa Air dan Perlengkapan Selang Sudah Disalurkan

Bantuan mesin pompa melengkapi peralatan yang lebih dulu disiapkan komite. Perlengkapan selang ikut dikirim agar pompa bisa langsung dioperasikan di lokasi kebakaran.

"Selain fokus pada penyiapan fasilitas konservasi gajah dan penghijauan kembali kawasan, langkah konkret mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga terus diperkuat, kami juga telah melengkapi sarana dan prasarana pencegahan," ujar Sriyanto.

Penambahan sarana ini memperkuat kesiapan tim lapangan menghadapi titik api yang biasanya muncul di area sulit dijangkau kendaraan.

Warga Sekitar Dilibatkan dalam Mitigasi Konflik Satwa

Mitigasi konflik satwa dan karhutla di TNWK dipacu dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan. Pendekatan itu dipakai agar dampak sosial dan ekonomi dari setiap kegiatan di taman nasional ikut dirasakan warga.

"TNWK ini bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, dan begitu pula sebaliknya. Jadi kita harus menciptakan kehidupan yang harmonis, sehingga setiap kegiatan di TNWK selalu melibatkan masyarakat lokal sehingga dampak sosial dan ekonominya semakin besar," kata Sriyanto.

Pelibatan warga dinilai penting karena interaksi gajah Sumatra dengan permukiman kerap terjadi di desa-desa penyangga kawasan. Komite Gabungan menangani dua persoalan sekaligus: karhutla dan konflik satwa.

"Untuk sumur-sumur yang belum jadi kami targetkan dirampungkan dalam waktu dekat karena kehadiran sumber-sumber air baru ini diharapkan dapat memangkas risiko karhutla secara signifikan sekaligus mendukung upaya pemulihan ekosistem Way Kambas secara berkelanjutan," kata dia.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: lampung.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top