OJK Lampung Dorong Kemitraan Sapi dan Pisang Mas Tanggamus, Populasi Ternak Naik dari 575 ke 1.500 Ekor

Penulis: Teguh Prasetyo  •  Sabtu, 03 Oktober 2026 | 21:40:01 WIB
Kepala OJK Lampung Otto Fitriandy memimpin pertemuan dengan Direksi PT Great Giant Livestock di Kantor OJK Provinsi Lampung, Bandarlampung.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung memperkuat ekosistem peternakan sapi dan pengembangan Pisang Mas Tanggamus melalui perluasan kemitraan, akses pembiayaan, dan penerapan ekonomi sirkular. Pertemuan bersama PT Great Giant Livestock (GGL) di Kantor OJK Lampung, Bandarlampung, membahas target populasi ternak hingga 1.800 ekor pada 2027. Pembiayaan peternak di Lampung Tengah bersama Bank Lampung juga naik dari Rp200 juta per petani pada 2025 menjadi Rp300 juta pada 2026.

BANDARLAMPUNG — Kepala OJK Provinsi Lampung Otto Fitriandy memimpin pertemuan dengan Direksi PT Great Giant Livestock (GGL) Welly Soegiono di Ruang Rapat Siger, Kantor OJK Provinsi Lampung. Pertemuan tersebut membahas penguatan kemitraan peternakan sapi dan pengembangan komoditas Pisang Mas Tanggamus.

Populasi sapi dalam program kemitraan tercatat naik dari 575 ekor menjadi 1.500 ekor pada 2026. Targetnya, populasi ternak mencapai 1.800 ekor pada 2027.

Pola Kemitraan: Sapi Diserahkan Setelah Bunting 4–5 Bulan

PT GGL menerapkan pola kemitraan dengan menyerahkan sapi kepada peternak setelah memasuki masa kebuntingan sekitar empat hingga lima bulan. Sapi jantan diarahkan untuk program fattening, sedangkan sapi betina dipertahankan untuk breeding.

Otto menyampaikan bahwa pengembangan breeding perlu berjalan beriringan dengan fattening. Tujuannya agar peternak memperoleh pendapatan jangka pendek sekaligus membangun populasi ternak secara berkelanjutan.

Pembiayaan Peternak Naik, BPRS Lampung Timur Salurkan Rp922,754 Juta

Dari sisi pembiayaan, penyaluran kepada peternak di Lampung Tengah bersama Bank Lampung meningkat dari sekitar Rp200 juta per petani pada 2025 menjadi Rp300 juta pada 2026. BPRS Lampung Timur telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp922,754 juta untuk program penggemukan sapi.

OJK mendorong lembaga jasa keuangan melakukan penilaian secara case by case terhadap peternak yang mengalami kendala SLIK, termasuk yang terdampak penyakit mulut dan kuku (PMK). Alternatif pembiayaan di luar KUR juga didorong dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Keterlibatan generasi muda dalam sektor peternakan didorong melalui program Agrifuture dan Siger Taruna Preneur.

Pisang Mas Tanggamus Tembus Jepang, Gedebong Jadi Pakan Sapi

Pertemuan juga membahas potensi Pisang Mas Tanggamus yang telah menembus pasar Jepang dengan nilai ekspor sekitar Rp40–50 miliar per tahun. Komoditas tersebut berpeluang dikembangkan melalui integrasi dengan sektor peternakan dalam konsep ekonomi sirkular.

Gedebong pisang dapat diolah menjadi silase sebagai pakan sapi, sementara kotoran sapi dimanfaatkan sebagai kompos.

"Timingnya harus sinkron. Kapan PED Sapi dan PED Pisang Mas bisa bertemu. Gedebong menjadi pakan dan kotoran sapi menjadi kompos," ujar Welly Soegiono.

OJK Koordinasikan BPD hingga Lembaga Penjaminan

Sebagai tindak lanjut, OJK Provinsi Lampung akan mendorong koordinasi dengan BPD Lampung, Pemerintah Provinsi Lampung, PT Juang Jaya, perusahaan asuransi, dan lembaga penjaminan. Langkah itu untuk memperkuat ekosistem pembiayaan peternakan.

OJK juga akan mendorong pemetaan clustering Pisang Mas di Provinsi Lampung sebagai bahan penyusunan PED 2027. Penguatan sinergi tersebut diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas, memperluas kemitraan, serta mendukung ekonomi daerah dan kesejahteraan petani dan peternak di Provinsi Lampung.

Reporter: Teguh Prasetyo
Sumber: lampung.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top