BANDAR LAMPUNG — Perairan Barat Lampung menjadi wilayah paling berisiko pada 1 Oktober 2026. Gelombang di kawasan itu diprakirakan sekitar 2,3 meter pada pagi hari, lalu naik ke puncaknya 2,5 meter sekitar pukul 12.00 WIB.
Memasuki sore, tinggi gelombang berangsur turun ke 2,4 meter dan kembali melemah menjadi 2,1–2,2 meter pada malam hari. Angin di perairan ini bergerak dari selatan hingga tenggara dengan kecepatan 11–15 knot, sementara hembusan maksimumnya menyentuh 25 knot pada pagi hari.
Berbeda dari Perairan Barat Lampung yang naik-turun, Selat Sunda Selatan justru bertahan di kisaran 2–2,3 meter sejak pagi hingga malam. Puncak gelombang sekitar 2,3 meter diperkirakan terjadi pada siang hari.
Angin di wilayah ini bertiup dari tenggara ke timur dengan kecepatan 10–14 knot dan hembusan mencapai 24 knot. Cuaca diprakirakan kabur hingga berawan tebal, disertai hujan ringan terutama pada sore hari.
Teluk Lampung bagian selatan mencatat gelombang sekitar 0,9–1,4 meter dengan puncak 1,4 meter pada siang hari. Bagian utara teluk lebih rendah lagi, yakni 0,7–1 meter.
Selat Sunda bagian utara menjadi wilayah paling tenang dengan gelombang hanya 0,4–1,1 meter. Meski begitu, hujan ringan dan udara kabur masih berpotensi muncul di kawasan tersebut.
Bagi nelayan kapal kecil, operator kapal wisata, dan warga yang beraktivitas di laut, dua wilayah yang perlu diantisipasi adalah Perairan Barat Lampung dan Selat Sunda Selatan. Perubahan angin dan gelombang di dua kawasan itu bisa terjadi dalam beberapa jam.
Pemeriksaan kondisi cuaca sebelum berangkat menjadi langkah paling sederhana untuk mengurangi risiko. Perahu berukuran kecil sebaiknya menunda melaut saat hembusan angin mendekati 25 knot, terutama pada pagi hingga siang hari.
Data prakiraan ini bersumber dari BMKG dan mencakup empat wilayah perairan utama Lampung: Perairan Barat Lampung, Selat Sunda Selatan, Teluk Lampung, serta Selat Sunda Utara. Warga yang hendak melaut disarankan memantau pembaruan informasi cuaca maritim sebelum beraktivitas.