Tujuh Laga, Empat Poin Tertinggal: Pekerjaan Rumah Mourinho di Real Madrid

Penulis: Qodri Anwar  •  Sabtu, 26 September 2026 | 16:37:32 WIB
Jose Mourinho kembali menangani Real Madrid dengan kontrak tiga tahun sejak Juli lalu.

LAMPUNG — Jose Mourinho kembali ke Real Madrid pada Juli lalu dengan kontrak tiga tahun, tetapi tujuh pertandingan La Liga sudah cukup memperlihatkan beban berat yang menantinya. Kekalahan dari Atletico Madrid membuat Madrid tertahan di peringkat keempat, terpaut enam poin dari Barcelona yang sempurna dalam tujuh laga.

Mourinho meninggalkan Santiago Bernabeu 13 tahun lalu dengan reputasi sebagai pelatih yang mampu memulihkan dominasi. Kini ia kembali ke klub yang belum meraih trofi selama dua musim, dengan misi yang jauh lebih rumit daripada sekadar merapikan taktik.

Kekalahan di derby melawan Atletico menjadi pengingat keras soal skala tantangan itu. Mourinho menyoroti dua keputusan wasit di babak pertama, tetapi performa timnya sendiri diakui tidak cukup untuk membawa pulang poin.

Barcelona Sudah Enam Poin di Depan

Real Madrid kini menempati posisi keempat klasemen La Liga. Barcelona memimpin dengan raihan sempurna dari tujuh laga, mencetak 31 gol, dan Raphinha sudah mengoleksi 12 gol. Atletico Madrid duduk di posisi kedua, disusul Real Betis, keduanya terpaut lima poin dari Barcelona.

Catatan sejarah tidak berpihak pada Madrid. Sepanjang era La Liga modern, satu-satunya keberhasilan Madrid membalikkan defisit enam poin dari Barcelona terjadi pada musim 2006-07 di bawah Fabio Capello.

Kontrol Lini Tengah Jadi Persoalan Utama

Dalam laga melawan Atletico, Mourinho menurunkan Aurelien Tchouameni bersama Federico Valverde di poros ganda, sementara Jude Bellingham ditempatkan lebih ke depan. Duo Tchouameni-Valverde memberi energi dan keamanan bertahan, tetapi Madrid kesulitan mengendalikan tempo dan membangun serangan dari area dalam.

Bernardo Silva baru masuk pada delapan menit terakhir, saat Madrid sudah tertinggal dan terpaksa mengejar. Kehadiran Silva yang mampu mengatur ritme permainan membuatnya menjadi opsi logis jika Mourinho ingin Madrid lebih menguasai bola.

Arda Guler menawarkan dimensi kreatif lain di sepertiga akhir lapangan. Mourinho tidak harus meninggalkan poros ganda, tetapi ia perlu menemukan formula agar Madrid bisa mengontrol jalannya pertandingan, terutama menghadapi lawan yang bertahan rapat.

Mbappe dan Vinicius Belum Saling Melengkapi

Kualitas individu di lini serang Madrid tidak perlu dipertanyakan. Masalahnya, ketiganya belum bekerja sebagai satu kesatuan yang utuh. Melawan Atletico, Kylian Mbappe nyaris tidak menyentuh bola dan Vinicius Jr ditarik keluar tak lama setelah kartu merah Dean Huijsen di awal babak kedua.

Mourinho punya tiga pemain—Vinicius, Mbappe, dan Bellingham—yang mampu memutuskan hasil pertandingan sendirian. Bellingham memberi ancaman lewat kemampuan membawa bola ke depan dan masuk ke kotak penalti dari lini kedua.

Tugas Mourinho adalah memastikan ketiganya saling melengkapi, bukan saling berebut ruang. Vinicius perlu menemukan kembali eksplosivitas dan agresivitasnya, sementara Mbappe membutuhkan pasokan peluang, bukan diminta menciptakan sendiri dari nol.

Carlos Espi Layak Dapat Menit Lebih Banyak

Ada satu opsi serang yang bisa dimanfaatkan Mourinho lebih sering. Carlos Espi langsung memberi kesan sejak bergabung, mencetak gol kemenangan menit ke-90 saat debut liga melawan Espanyol, lalu mengulanginya di masa injury time kontra Elche.

Pemain 21 tahun itu membuktikan diri mampu membuat dampak ketika diberi kesempatan bermain. Saat Madrid masih mencari keseimbangan antara Vinicius, Mbappe, dan Bellingham, Espi menawarkan alternatif sebagai titik fokus di fase akhir pertandingan.

Transisi Bertahan Harus Segera Dibenahi

Persoalan besar lainnya adalah apa yang terjadi ketika Madrid kehilangan bola. Atletico berulang kali menemukan ruang di sekitar lini tengah Madrid dan melancarkan serangan cepat, situasi yang diperburuk kartu merah Huijsen.

Jika Mourinho ingin timnya menekan agresif dan mengirim banyak pemain ke depan, Tchouameni dan Valverde wajib memberi perlindungan cukup saat bola lepas. Melawan Atletico, Denzel Dumfries, Ibrahima Konate, Huijsen, dan Marc Cucurella tampil di depan Thibaut Courtois—kuat secara kualitas, tetapi rapuh saat dihantam serangan balik.

Jeda internasional tiga pekan menjadi waktu berharga bagi Mourinho untuk membenahi tiga area itu sebelum Madrid menjamu Villarreal pada 10 Oktober, lalu bertandang ke Barcelona dua pekan berselang.

Reporter: Qodri Anwar
Sumber: bbc.co.uk This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top