Bakal Calon Rektor Unila Budiyono Dorong Kampus Cari Sumber Dana Alternatif di Luar UKT

Penulis: Rendi Kusuma  •  Rabu, 23 September 2026 | 09:01:31 WIB
Bakal Calon Rektor Unila Budiyono menilai kampus perlu mencari sumber dana alternatif di luar UKT.

BANDAR LAMPUNG — Budiyono menilai Unila yang telah berusia 61 tahun memiliki modal besar berupa jaringan alumni dan tenaga ahli di berbagai bidang. Potensi itu, katanya, perlu dikelola terintegrasi agar keberadaan kampus memberi manfaat lebih luas bagi warga Lampung.

Menurut Budiyono, selama ini pembiayaan pendidikan di Unila masih bertumpu pada UKT. Besaran UKT disebut tidak mengalami kenaikan sejak 2017, sementara kebutuhan pembiayaan kampus terus berjalan seiring bertambahnya jumlah mahasiswa.

"Pertanyaannya, ekonomi, inflasi ada perubahan, tidak mungkin menutupi pembiayaan ini," kata Budiyono.

Aset Kampus Dinilai Belum Dioptimalkan

Budiyono menyebut Unila memiliki banyak aset yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pembiayaan kampus. Aset itu mencakup sumber daya manusia, alumni, hasil riset, hingga berbagai fasilitas yang dimiliki kampus.

"Kita tidak harus mengandalkan UKT, tapi kita harus optimalkan aset kita. Aset tidak hanya tanah dan gedung, tapi SDM dan aset alumni. Tinggal bagaimana orkestrasi ini semua," ujarnya.

Ia berharap ke depan pembiayaan Unila tidak hanya bertumpu pada UKT mahasiswa. Menurutnya, sumber dana dari UKT saat ini lebih banyak dipakai untuk membangun infrastruktur.

"Sementara sumber dana dari UKT kita bangun infrastruktur. Jadi konsentrasinya ada ke depan bagaimana pendidikan gratis," kata Budiyono.

Hasil Riset Ditawarkan ke Pemda dan Masyarakat

Budiyono menyoroti hasil riset sivitas akademika Unila yang menurutnya jangan berhenti dalam bentuk publikasi atau konsumsi lingkungan akademik. Hasil riset itu, katanya, dapat ditawarkan kepada pemerintah daerah maupun masyarakat untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan.

"Unila harus bisa transformasi menjadi lembaga pemecah masalah di masyarakat," ujarnya.

Ia mencontohkan Unila memiliki tenaga ahli di bidang hukum, teknik, hingga kedokteran. Keberadaan rumah sakit pendidikan juga dinilai sebagai aset yang dapat dikembangkan untuk memperkuat peran Unila sekaligus membuka sumber pendapatan baru bagi kampus.

"Dari situ nanti masyarakat sudah merasakan meningkat hasil riset, bisa jadi sumber pendapatan kita," kata Budiyono.

Kolaborasi dengan Pemda, Alumni, dan Industri

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Budiyono mendorong penguatan kerja sama antara Unila dengan pemerintah daerah, alumni, dan dunia industri. Menurutnya, posisi Unila sangat strategis karena keberadaan kampus tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dan pembangunan di Provinsi Lampung.

"Kita juga kerja sama dengan alumni untuk partisipasi dengan kampus. Terus kita tawarkan hasil riset ke pemda," ujarnya.

Ia menilai kolaborasi itu dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas manfaat keberadaan Unila sekaligus memperkuat kemandirian pembiayaan kampus.

Pemilihan Rektor Diminta Jadi Adu Gagasan

Selain soal pendanaan, Budiyono menyoroti proses pemilihan Rektor Unila periode mendatang. Menurutnya, pemilihan rektor harus menjadi ruang bagi para calon untuk menawarkan gagasan dan program terbaik bagi masa depan kampus.

Ia menilai kontestasi pemilihan rektor semestinya tidak menjadi momentum yang justru memecah persatuan sivitas akademika.

"Ajang pemilihan rektor bukan ajang memecah belah, tapi adu ide, gagasan, ajang mempersatukan kampus," tegasnya.

Budiyono juga menyebut proses pemilihan rektor dapat menjadi pembelajaran demokrasi bagi sivitas akademika. Unila sebagai institusi pendidikan, katanya, memiliki posisi penting dalam memberikan contoh bagaimana proses demokrasi dijalankan secara sehat.

"Belajar demokrasi itu belajar menang, belajar kalah. Jangan pemilihan rektor yang kita ajarkan orang lain," pungkasnya.

Reporter: Rendi Kusuma
Sumber: newsanalis.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top