LAMPUNG — Mengutip data Bloomberg pada pukul 07.47 WIB, rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) sempat tertekan 0,18%, namun pelemahan itu telah terpangkas menjadi 0,05% ke posisi Rp17.712 per dolar AS. Meski masih di zona merah, pergerakan ini menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda mulai mereda seiring sentimen positif dari pasar komoditas.
Koreksi harga minyak terjadi setelah harga acuan global tersebut menguat nyaris 13% dalam dua pekan terakhir. Kini minyak bertengger di kisaran US$93 per barel, level yang dinilai lebih sehat bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Sentimen risk-on terpantau di kawasan Asia pagi ini. Sebagian besar mata uang regional kompak menghijau terhadap dolar AS, dipimpin oleh won Korea Selatan yang menguat paling tajam sebesar 0,26%.
Penguatan mata uang Asia ini menjadi angin segar bagi rupiah yang sepanjang pekan lalu berada dalam tekanan akibat permintaan dolar AS yang tinggi dari korporasi domestik.
Pelemahan harga minyak menjadi katalis utama yang diperkirakan menopang penguatan rupiah hari ini. Penyebabnya, harga energi yang lebih jinak secara langsung menekan proyeksi inflasi dan mengurangi beban belanja impor migas nasional.
Dengan biaya impor energi yang lebih rendah, kebutuhan valas untuk pembayaran impor pun berkurang. Hal ini berpotensi memperbaiki posisi neraca perdagangan dan mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa.
Pasar kini mencermati kemampuan rupiah untuk menembus level psikologis Rp17.700 per dolar AS. Jika tekanan beli dolar dari korporasi tidak meningkat signifikan, bukan tidak mungkin rupiah mampu menutup sesi perdagangan di zona hijau.
Namun demikian, pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi pembalikan arah jika data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini menunjukkan kekuatan yang tidak terduga. Investasi mengandung risiko.