LAMPUNG — Resiliensi industri travel Indonesia di tengah tantangan ekonomi kini tidak hanya ditopang oleh strategi komersial, tetapi juga oleh ketahanan sistem pembayaran digitalnya. Penyedia layanan pembayaran (payment gateway) DOKU menyebut adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi kunci untuk memitigasi risiko penipuan yang kerap menyertai lonjakan transaksi perjalanan.
Chief Executive Officer DOKU, Hendra Wijaya, menegaskan bahwa keamanan menjadi prioritas utama untuk menjaga kepercayaan konsumen di sektor yang sangat sensitif terhadap gesekan (friction) saat bertransaksi. Menurutnya, penerapan AI mampu menganalisis pola transaksi secara real-time untuk mendeteksi anomali yang berpotensi menjadi fraud.
Selain pengamanan transaksi, fleksibilitas metode pembayaran juga menjadi perhatian. DOKU menilai opsi pembayaran dengan sistem bayar di kemudian hari (PayLater) menjadi instrumen penting bagi konsumen untuk tetap melakukan perjalanan di saat daya beli masyarakat perlu dijaga.
Layanan ini memberikan alternatif bagi pelanggan yang tidak ingin langsung membebani arus kas, sementara bagi pelaku bisnis travel, skema ini berpotensi meningkatkan nilai transaksi rata-rata (average spending) per pelanggan. Integrasi PayLater dalam sistem pembayaran diyakini mampu menjadi katalis untuk mendorong tingkat konversi penjualan tiket dan paket wisata.
DOKU juga menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek keamanan dan kemudahan penggunaan. Sistem deteksi fraud berbasis AI yang diusung diharapkan tidak memberikan hambatan berlebihan bagi pengguna sah, tetapi tetap ketat dalam menyaring transaksi mencurigakan.
Langkah ini sejalan dengan kebutuhan industri travel yang mengutamakan kecepatan dan efisiensi. Dengan mengintegrasikan AI dan kanal pembayaran alternatif, para pemangku kepentingan di ekosistem travel diharapkan dapat bernapas lebih lega di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, tanpa mengorbankan keamanan data nasabah.