LAMPUNG — Setiap ibu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya, terutama di periode emas 1000 hari pertama kehidupannya. Di fase ini, otak anak berkembang sangat pesat dan fondasi kesehatannya dibangun untuk jangka panjang. Namun, banyak orang tua yang belum menyadari bahwa kunci utama tumbuh kembang tidak hanya berasal dari makanan yang masuk, tetapi juga dari seberapa baik tubuh anak menyerap nutrisi tersebut.
Saluran cerna bukan sekadar organ pencernaan. Lewat konsep gut-brain axis, perut dan otak saling terhubung erat. Di dalam usus anak, ada sekitar 100 triliun mikrobiota yang berperan aktif menjaga daya tahan tubuh dan memengaruhi kemampuan kognitifnya.
Prof. Yvan Vandenplas, Pakar Gastroenterologi dan Nutrisi Anak dari University Hospital Brussels, Belgia, menegaskan bahwa asupan biotik sejak dini sangat esensial. "Mikrobiota usus memainkan peran sentral dalam penyerapan nutrisi, perkembangan sistem imun, hingga pertumbuhan anak. Asupan biotik seperti prebiotik, probiotik, dan sinbiotik dapat membantu mendukung keseimbangan mikrobiota usus sejak awal kehidupan," jelasnya.
Perhatian ekstra perlu diberikan pada anak yang lahir melalui operasi caesar. Mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami ketidakseimbangan bakteri baik (disbiosis). Dukungan pencernaan bisa diberikan melalui asupan sinbiotik dengan kombinasi spesifik FOS:GOS 1:9 dan Bifidobacterium breve M16-V yang terbukti secara klinis membantu memulihkan jumlah bakteri baik lebih cepat.
Menjawab tantangan kesehatan anak yang semakin kompleks, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) bersama IDAI Cabang Bali menggelar Pediatric Science & Health Summit 2026 di Nusa Dua, Bali. Forum internasional ini mengusung tema "Advancing Science for Clinical Excellence" untuk membedah inovasi dan solusi klinis terkini.
Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, dalam pidato kuncinya menekankan pentingnya investasi strategis di periode awal kehidupan. "Periode 1.000 HPK paling menentukan bagi kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Proses ini sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi serta kemampuan otak untuk terus berkembang," ujarnya.
Ketua Umum PP IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menambahkan bahwa kemajuan sains harus membawa dampak nyata. Kolaborasi lintas sektor inilah yang menjadi kunci utama mewujudkan pelayanan kesehatan anak yang lebih baik di Indonesia.
Alergi susu sapi (ASS) tidak bisa dianggap remeh karena keterlambatan