LAMPUNG — Montech memperkenalkan TG3 pertama kali di ajang Computex tahun ini. Casing mid-tower ini menyasar segmen entry-level dengan harga yang agresif: US$59,90 atau sekitar Rp 990 ribu. Dengan banderol tersebut, pengguna sudah mendapatkan empat kipas ARGB bawaan dan dua panel kaca tempered berwarna smoked di sisi depan serta samping.
Berbeda dari casing panoramik kebanyakan yang menaruh intake di depan, Montech menempatkan tiga kipas di panel samping. Keputusan ini memberi ruang ekstra di bagian depan bawah, yang dimanfaatkan sebagai area pajangan untuk figure atau koleksi. Ruang yang tersedia sekitar 7 x 7 x 17 inci—cukup untuk menampilkan barang kesayangan, meski akan menyusut jika GPU yang dipasang berukuran besar.
Ruang power supply berada di chamber terpisah dengan warna silver yang kontras di bodi hitam. Di sepanjang tepi atas chamber tersebut terdapat strip RGB frosted yang memantulkan cahaya ke komponen di dalamnya. Di bagian bawah depan, ada area kosong yang bisa dimanfaatkan untuk memajang aksesori, meski sebagian pengguna mungkin menilai ruang tersebut kurang fungsional.
Untuk urusan konektivitas, port I/O berada di sisi bawah depan: dua USB Type-A 5 Gbps, satu USB Type-C 10 Gbps, jack audio 3,5mm, serta tombol power dan mode RGB. Kekurangannya, belum ada port USB 20 Gbps yang kini mulai umum ditemui di casing kelas menengah.
Pengujian dilakukan dengan prosesor Intel Core Ultra 7 270K, GPU Asus TUF RTX 4080, dan PSU Montech Century II 1050W. Dalam uji noise-normalized 42 dBA, suhu CPU tercatat 90 derajat Celsius—sejajar dengan Cooler Master HAF II 500 yang menggunakan kipas berukuran besar. Namun, suhu GPU rata-rata 79 derajat Celsius, menjadi yang tertinggi di antara data pengujian yang pernah dilakukan.
Saat semua kipas dipacu di kecepatan maksimum, suhu CPU turun 4 derajat dan GPU turun 6 derajat. Yang menarik, tingkat kebisingan tetap rendah: 48 dBA dari jarak satu meter, menjadikannya casing paling senyap dalam pengujian terbaru. Angka ini hanya 6 dBA di atas ambang batas pengujian noise-normalized.
Panel samping dan kaca depan menggunakan mekanisme tab yang masuk ke slot rangka, dengan pengunci bola-di-soket di bagian atas. Panel terpasang kokoh, tapi perlu hati-hati saat casing dipindahkan karena tekanan bisa membuat panel terlepas.
Di balik panel motherboard, tersedia ruang untuk menyembunyikan kabel dengan dua velcro tie. Yang mengejutkan untuk kelas harga ini, Montech menyertakan hub ARGB dengan tiga port 3-pin. Dua port sudah terpakai untuk kipas bawaan, menyisakan satu port untuk perangkat tambahan. Hub ini bisa dikendalikan lewat tombol RGB di panel depan atau dihubungkan ke motherboard.
Dukungan motherboard rear-connect juga tersedia, memungkinkan build tanpa kabel terlihat untuk estetika maksimal. Untuk penyimpanan, ada ruang untuk satu HDD 3,5 inci atau dua SSD 2,5 inci.
Montech TG3 menawarkan nilai yang sulit ditandingi di kelas harga Rp 900 ribuan. Empat kipas ARGB, kaca panoramik, hub RGB, dan dukungan motherboard rear-connect adalah fitur yang biasanya baru ditemui di casing dua kali lipat harganya. Performa CPU yang baik dan tingkat kebisingan rendah menjadi nilai tambah.
Kekurangan utamanya terletak pada suhu GPU yang lebih hangat, akibat aliran udara yang kurang optimal di area kartu grafis. Pengguna bisa menambahkan dua kipas 120mm di atas PSU shroud untuk mendinginkan GPU, atau memasang exhaust tambahan di bagian atas. Area pajangan di depan juga bisa terasa sia-sia bagi yang tidak memanfaatkannya.
Untuk pengguna yang mencari casing budget dengan tampilan menarik dan performa seimbang, TG3 layak masuk daftar pertimbangan utama. Montech bahkan berhasil menyingkirkan Lian Li Lancool 207 (US$82,99) dari posisi casing budget terbaik berkat nilai yang ditawarkan. Jika GPU yang dipakai tidak terlalu boros daya, casing ini adalah pilihan yang sangat masuk akal.