Ekonomi Lampung Tumbuh 5,58 Persen, BI Fokus Stabilkan Harga Cabai

Penulis: Qodri Anwar  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 14:56:40 WIB
Pertumbuhan ekonomi Lampung mencapai 5,58 persen pada triwulan pertama 2026.

BANDAR LAMPUNG — Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung melaporkan pertumbuhan ekonomi daerah yang tetap kuat pada awal tahun 2026. Capaian pertumbuhan sebesar 5,58 persen (year on year/yoy) ini melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi motor utama penggerak ekonomi Bumi Ruwa Jurai dengan pertumbuhan mencapai 9,89 persen. Peningkatan ini didorong oleh momentum puncak panen raya padi dan jagung yang terjadi sepanjang triwulan pertama.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Lampung, Achmad P. Subarkah, menjelaskan bahwa capaian tersebut menempatkan Lampung di posisi kedua tertinggi di Sumatera setelah Kepulauan Riau. Kontribusi Lampung terhadap ekonomi pulau Sumatera tercatat sebesar 10,8 persen.

Sektor Pertanian dan Perdagangan Jadi Penopang Utama

Selain pertanian, sektor perdagangan juga mencatat performa positif dengan pertumbuhan 6,91 persen. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya aktivitas masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), mulai dari Imlek hingga Idulfitri 2026.

Pertumbuhan juga merata di sektor transportasi, pergudangan, dan konstruksi. Mobilitas wisatawan yang meningkat serta keberlanjutan proyek strategis nasional di wilayah Lampung menjadi faktor kunci di balik tren positif tersebut.

Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,54 persen, sementara konsumsi pemerintah melonjak hingga 13,84 persen. Indikator ini menunjukkan daya beli masyarakat Lampung masih berada dalam kondisi terjaga.

Mengapa Harga Cabai Masih Jadi Tantangan Inflasi?

Meski pertumbuhan ekonomi solid, BI Lampung memberikan perhatian khusus pada komoditas cabai merah. Pada April 2026, Lampung mengalami inflasi bulanan sebesar 0,55 persen yang salah satunya dipicu oleh kenaikan harga cabai.

Sifat cabai yang musiman dan sangat sensitif terhadap perubahan cuaca sering kali menyebabkan gejolak harga di pasar. Selain cabai, komoditas lain seperti minyak goreng, ikan nila, dan beras juga ikut menyumbang angka inflasi pada periode yang sama.

“Komoditas pangan seperti cabai dan bawang memang rentan terhadap kondisi musim. Kami melakukan capacity building bersama poktan cabai, penyuluh lapangan, dan dinas pertanian,” ujar Achmad P. Subarkah dalam acara Bincang Literasi Bersama Media di Bandar Lampung, Rabu (6/5/2026).

Langkah BI Lampung Tingkatkan Produksi Petani

Sebagai solusi jangka panjang, BI Lampung mendorong peningkatan kapasitas produksi melalui pembinaan kelompok tani (poktan). Program ini bertujuan agar pasokan cabai di pasar tetap stabil meskipun terjadi perubahan musim atau kendala cuaca.

Langkah preventif ini diharapkan mampu menjaga angka inflasi tahunan Lampung yang saat ini berada di level 0,53 persen. Angka tersebut tercatat sebagai salah satu yang terendah di Indonesia dan menjadi yang paling rendah di seluruh Sumatera.

Optimisme pelaku usaha juga terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Lampung yang menyentuh angka 120,33. Angka di atas 100 menunjukkan bahwa masyarakat dan dunia usaha tetap yakin terhadap prospek ekonomi Lampung di masa depan.

“Ada indikator yang menjelaskan bahwa perekonomian Lampung masih solid karena kami tiap bulan melakukan survei konsumen. Hasilnya menunjukkan masyarakat Lampung yakin ke depan perekonomian akan terus positif,” pungkas Subarkah.

Reporter: Qodri Anwar
Back to top