BANDAR LAMPUNG — Status tuan rumah Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas) tidak hanya dimaknai sebagai tanggung jawab penyelenggaraan. Kontingen Lampung menjadikan momentum ini sebagai panggung pembuktian setelah dua kali berturut-turut finis sebagai runner-up di ajang serupa.
Salah satu cabang yang menjadi andalan adalah futsal. Ketua Harian Pelaksana Porwanas, Supriyadi Alfian, menegaskan target dua medali emas dari dua kategori usia yang dipertandingkan, yakni kelompok umur 27-39 tahun dan 40 tahun ke atas.
Ambisi tersebut tidak muncul tanpa dasar. Rekam jejak futsal Lampung di Porwanas terbilang konsisten. Kontingen pernah keluar sebagai juara di Porwanas Bandung, meski pada dua penyelenggaraan berikutnya di Malang dan Banjarmasin harus puas berada di posisi kedua.
"Kalau ditanya soal harapan, masa iya kami mau menjadi runner-up terus? Intinya, mudah-mudahan di Porwanas tahun depan kami akan terus berusaha meningkatkan prestasi tersebut," ujar Supriyadi saat meninjau seleksi tim di Twin Futsal, Sabtu (8/8/2026).
Persiapan skuad menjadi perhatian utama. Untuk kategori 40 tahun ke atas, komposisi pemain relatif tidak banyak berubah dari tim sebelumnya. Namun, kategori 27-39 tahun mengalami perombakan besar-besaran.
Dari skuad lama, hanya empat pemain yang dipertahankan. Seleksi pemain baru pun digelar untuk memenuhi kebutuhan masing-masing tim yang membutuhkan sedikitnya 14 pemain, sehingga total ada sekitar 28 pemain yang harus disiapkan.
Langkah ini sekaligus menjadi koreksi atas kekurangan di Porwanas Banjarmasin. Saat itu, Lampung bertindak layaknya "pendekar" karena satu tim yang sama harus bermain untuk dua kategori akibat keterbatasan pemain.
"Apalagi kita berstatus sebagai tuan rumah. Kalau di Banjarmasin kemarin kami bertindak layaknya 'pendekar', di mana satu tim yang sama harus bermain untuk dua kategori, mudah-mudahan karena sekarang kita menjadi tuan rumah, kita bisa mengisi skuad secara penuh," jelasnya.
Supriyadi menyadari status tuan rumah tidak otomatis menjamin kemenangan. Kekuatan pemain, pengalaman, dan mental bertanding tetap menjadi penentu di lapangan. Namun, ia mencatat ada satu modal berharga yang sudah dimiliki Lampung.
Menurutnya, sejumlah daerah mengaku tidak ingin bertemu Lampung terlalu dini dalam turnamen. Persepsi ini dinilai sebagai aset psikologis yang bisa dimanfaatkan untuk menekan lawan sejak awal pertandingan.
"Ini bukan maksud menyombongkan diri, tetapi mereka memang paling enggan bertemu Lampung. Nah, momentum itulah yang akan kami manfaatkan. Kami akan menyerang mental mereka terlebih dahulu, itu saja kuncinya," tegasnya.
Meski memasang target dua emas, Supriyadi menegaskan target minimal timnya adalah menyamai pencapaian Porwanas sebelumnya. Namun, keuntungan bermain di hadapan publik sendiri menjadi alasan untuk berani menargetkan hasil lebih tinggi.
"Minimal kami meraih pencapaian yang sama seperti tahun kemarin. Itu target minimal yang harus dicapai," ujarnya. "Insyaallah. Kami tidak mau mendahului untuk memastikan hal tersebut, tetapi yang pasti target kami adalah itu."
Bagi Lampung, gelaran Porwanas mendatang bukan hanya tentang sukses menjadi tuan rumah yang baik. Ada satu misi yang ingin dibuktikan: setelah dua kali menjadi runner-up, kini saatnya mengejar podium tertinggi di hadapan pendukung sendiri.